Malang Kembali, Kembalikan Malangku...

Pada 22-25 Mei 2008, masyarakat Kota Malang berpesta. Pesta bertajuk "Malang Kembali" itu digeber di sepanjang Jalan Ijen, Kota Malang. Satu-satunya ikon di Kota Malang yang tetap terjaga hingga kini, setelah puluhan (bisa jadi ratusan atau ribuan) ikon Malang mulai tergerus perkembangan zaman dari waktu ke waktu.
Di sana masyarakat dimanjakan berbagai atraksi, suguhan, potret, pernik budaya, dan sejumlah ikon sejarah yang coba disuguhkan. Mulai dari pertunjukan keroncong, topeng malangan, barang-barang kuno, makanan zaman dahulu seperti gulali, permainan gobak sodor, egrang, menyulap sawah muncul di kompleks perumahan elite Malang, dan berbagai suguhan menarik lainnya.
Semuanya dikemas dalam lebih kurang 250 stan yang dibagi-bagi dalam kawasan Kerajaan Singhasari, Pendapa Agung, Kawasan Kerajaan Majapahit, Kawasan Islam Klasik, Kawasan Kerajaan Kanjuruhan, Panggung Ludruk, Panggung Keroncong, dan pos Perpustakaan Daerah Kota Malang.
Suguhan yang dimunculkan mulai dari workshop keramik, upacara pijetan, gelar wayang kulit panji, diorama aktivitas kandang kuda, pandai besi, pameran artefak Majapahit, workshop ludruk, dan sebagainya. Untuk menambahkan kesan tempo dulu agar lebih dramatis, bahkan panitia 'memaksa' mengusung miniatur sawah lengkap dengan kerbaunya ke Jalan Ijen.
Kala dibuka Kamis (23/5) malam, praktis ribuan massa tumplek blek (tumpah ruah) di sepanjang Jalan Ijen. Jalanan penuh sesak orang, sepeda kumbang, dokar (kereta kuda), dan berbagai jenis pedagang mulai makanan hingga mainan. Siang harinya, di setiap sudut Jalan Ijen tampak orang mempertontonkan atraksi topeng monyet.
"Lumayan menyenangkan, dengan adanya Malang Kembali ini kami bisa tahu banyak jajanan dan mainan zaman dahulu. Setidaknya, seperti permainan egrang ini, dahulu saat saya masih kecil sering memainkannya. Namun beranjak dewasa, permainan ini mulai hilang," tutur Taufik (50), warga Malang.
Senada dengannya, Fani (28) warga asal Tulungagung yang sejak beberapa waktu lalu tinggal di Malang. "Dahulu di Tulungagung saya pernah mendapati permainan egrang ini. Namun kini sudah tidak ada. Setidaknya, dengan Malang Kembali ini saya bisa bernostalgia dengan permainan egrang," ujarnya.
Sasi (18), pelajar di salah satu SMA negeri di Kota Malang menuturkan, di Malang Kembali ia bisa menikmati pertunjukan topeng Malang, mengetahui patung-patung bersejarah yang tidak gampang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalau hari-hari biasa kita akan sulit menemukannya. Lebih mudah menemukan pentas musik daripada pentas-pentas keroncong atau wayang- wayang seperti ini," ungkapnya lugu.

Kian memudar

Mungkin benar juga. Di Malang khususnya, saat ini lebih banyak muncul pentas-pentas seni ketimbang pentas Topeng Malang. Menurut Maestro Topeng Malang, Mbah Karimun beberapa waktu lalu, sekarang ini tidak lagi banyak job menari Topeng Malangan selain saat peringatan HUT Malang.
"Terakhir kami pentas besar saat HUT Malang beberapa waktu lalu," tutur istri Mbah Karimun, Siti Maryam. Yang lebih banyak dilakukan Mbah Karimun untuk melestarikan budaya Topeng Malangan, menurut Maryam, saat ini adalah dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan.
Seiring dengan hal itu, budaya komunitas masyarakat Malang pun kian memudar. Era tahun 1960-1990-an, komunitas seni pernah tumbuh subur seperti Himpunan Seni Budaya Islam Malang (1960-an), Kelompok Studi Teater (Kloster) Malang (tahun 1960-an), Rumah Budaya (2000), Lembaga Budaya Desa (2001), Forum Cerpen Malang (2000), Forum Wolulikuran (2004), dan komunitas-komunitas seni lainnya. Kini semuanya tinggal nama.
Mungkin mulai berkurangnya rasa memiliki Topeng Malangan sebagai identitas adalah salah satu bentuk kehilangan Malang yang tidak langsung terasa.
Yang lebih terlihat nyata adalah hilangnya fasilitas publik yang bisa menjadi wadah berkumpul dan mengapresiasikan segala potensi seperti di Taman Indrokilo, GOR Pulosari, dan sarana publik lain. Satu per satu semuanya disulap menjadi perumahan atau pertokoan guna mendukung urbanisasi. Seiring itu, hilang pula sebutan Garden City untuk Malang karena taman-taman kota mulai hilang berganti gedung dan pertokoan.
Kondisi itu sangat kontras dengan pencapaian Kota Malang yang cukup luar biasa secara ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Kota Malang tahun 2007 diklaim mencapai 6,7 persen, jauh mengungguli target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,5 persen, jauh meninggalkan pertumbuhan provinsi Jawa Timur yang hanya 6,3 persen, dan capaian pertumbuhan nasional yang tahun ini hanya bisa mencapai 6,4 persen.
Kini kala dibuat pesta rakyat Malang Kembali, orang mulai bertanya. Malang Kembali seperti apakah yang coba disuguhkan? Apakah wayang-wayang kulit yang ternyata justru didatangkan dari Solo dan Wonogiri (seperti Pak Sogi dan Pak Sabar yang membawa wayang buatannya hingga sebanyak lima kodi di sudut Jalan Ijen)?
Boleh jadi Malang Kembali tanpa sadar merupakan salah satu bentuk perwujudan ekspresi kekhawatiran dan kerinduan warga Malang akan seni dan tradisi. Seni dan tradisi yang mulai luntur seiring perkembangan zaman.
Warga Malang mulai risau. Jika semakin lama identitasnya tergerus zaman, mau jadi apa Malang ke depan? Ataukah menjadi seperti bunglon sebagaimana disebutkan sastrawan asal Malang, Agus Sunyoto? Di mana bunglon akan selalu terombang-ambing di tengah perkembangan zaman. Menjadi bangsa yang anonim
Oleh: Dahlia Irawati

Tidak ada komentar: